(True Love Never Die, Yes or No part 2 )
Pernahkah ketika kamu melihat dan mendengar kisah temanmu, kamu pernah merasa ada diposisi itu? Ikut membandingkan pilihan yang akan dia pilih dengan apa yang telah kamu pilih dan kamu tempuh?
Salah satu situasi yang paling sering keluar kalimat “aku juga pernah di posisi itu” adalah saat – saat dimana ada seseorang yang tengah patah hati, terluka, dan mencoba bangkit dan beranjak dari kesedihan yang membelenggu dengan rantai kuat bernama masa lalu.
Saat aku jatuh cinta. Aku tak bisa memberikan alasan apapun kenapa aku bisa jatuh cinta. Semua hanya terjadi begitu saja. Karena tiba – tiba hanya ada yang aneh disini. Didalam hati.Cinta itu indah. Tak peduli dengan siapa kamu jatuh cinta. ( True Love Never Die, Yes or No part 1)
Memang benar begitu adanya. Cinta memang tidak salah. Tidak ada aturan manapun yang menuliskan sebuah syarat untuk jatuh cinta.
Namun cinta itu terlihat salah ketika orang itu mengatas namakan cinta untuk menyakiti orang lain. Cinta itu tulus. Cinta tidak menuntut apapun. Tapi kita, seseorang yang memiliki hati dan sekaligus menjadi tempat tinggal cinta itu yang membuat cinta terlihat salah.
Jika kamu mempertahankan 1 cinta dengan mengorbankan dan menyakiti begitu banyak cinta dari orang lain, dan berharap suatu saat nanti orang – orang disekitarmu tidak keras kepala dan menerima keputusanmu, aku tidak menyalahkan. Tapi simaklah apa yang akan kutuliskan ini.
Bagi sebagian orang, cinta itu layak untuk diperjuangkan. Karena menemukan orang yang bisa mencintai dan dicintai dengan sepenuh hati itu tidak mudah. Sangat sulit untuk bisa menghabiskan waktu seumur hidup kita dengan orang yang tidak kita cintai, tanpa ada perasaan nyaman dan saling membutuhkan semuanya akan terasa begitu hambar. Hidup tanpa ada seseorang yang menjadi termometer semangat dalam keseharian kita membuat dunia begitu sepi.
Namun jangan karena memprioritaskan perasaan cinta itu, membuat kita lupa rasa cinta yang kita dapat dengan orang di sekitar kita. Mengorbankan banyak cinta demi 1 cinta.
Akan ada suatu saat dimana kita sadar bahwa kita telah terlalu dibutakan cinta. Menyadari adanya pengorbanan yang berlebihan. Terlalu banyak menakar gula dalam secangkir kopi sama halnya dengan terlalu banyak memberi cinta dalam suatu hubungan. Hingga akhirnya tidak siap untuk menghadapi sebuah perpisahan.
Cinta memang layak untuk diperjuangkan, tapi cinta itu tidak untukdipaksakan. Dipaksa untuk terwujud dan terealisasikan.
Itulah sebab mengapa ada kata cinta tidak harus memiliki. Karena cinta yang tulus itu akan tahu bahwa dengan melepas orang yang kita cintai bukan berarti kita berhenti mencintainya, tapi lebih berharap akan ada seseorang yang jauh lebih layak dan lebih tepat untuk membahagiakannya.
Jadi apa sebenarnya apa cinta sejati itu ada?
Kalau menurutku cinta sejati itu ada.
Cinta sejati itu ada dan akan terus hidup dalam hati kita. Hatiku, hatimu dan hati kita semua yang memiliki cinta.
Dan orang yang menjadi cinta sejatimu bisa saja orang yang menemani dan disampingmu saat ini, atau orang yang telah kau tinggalkan, atau orang yang tak pernah tersampaikan perasaannya.
Jadi yang memiliki sifat dasar cinta yang tulus dan apa adanya hanyalah cinta sejati. Entah itu termiliki atau tidak. Entah itu terikat atau sudah lepas. Entah itu terucap atau hanya tersimpan.
Cinta sejati hanya hati kita masing – masing yang tahu.
Namun yang aku tahu, cinta sejati itu indah.
_____________________________amiEzha'S bLoG
Senin, 13 Februari 2012
Selasa, 03 Januari 2012
cinta itu mengikutiku
Masih lekat dalam ingatan saat jemari ini untuk pertama kali membahas tentang cinta. Cinta masa putih abu – abu. Bagaimana serunya, lugunya, dan malu – malunya cinta itu masih teringat kuat.
Kala itu aku menggambarkan bahwa cinta itu begitu alamiah, spontan dan semua orang bisa merasakannya. Bagaimana hebatnya cinta hingga bisa menyihir dunia dalam sekejap mata. Bagaimana dahsyatnya cinta hingga kinerja hormonal dalam tubuh kita pun bisa dipengaruhi olehnya.
Itu cinta putih abu – abuku, yang sederhana, tak bersyarat, dan apa adanya. Semua hanya terfokus pada satu kata, jatuh cinta. Tak ada yang mengikuti, tak ada yang membebani. Rasa cinta kala itu seperti aliran air yang tenang, atau bagaikan hembusan angin yang menyejukkan. Semuanya membawa kedamaian dan kebahagiaan.
Seiring dengan kutanggalkan seragamku itu, kerikil mulai muncul satu persatu. Cinta bukan hanya sebatas aku dan kamu yag merasakannya. Bukan hanya kita yang harus bahagia.
Pada masa ini pula aku mengenal cinta yang bersyarat. Jatuh cinta yang tepat. Dan entah kata apalagi yang sering tak bisa kucerna dengan logika. Untuk merasakan jatuh cinta, semua jadi begitu rumit.
Mengapa tidak sesederhana dulu? Saat aku jatuh cinta tak ada yang menyalahkan atas rasa yang aku tanam. Pokoknya jatuh cinta. Titik. Semua hal didunia ini hanya tentang aku dan kamu.
Kadang aku berpikir, mengapa semua ini bisa berubah.
Setelah aku berkali – kali memaki keadaan dan tak ada yang bisa aku dapatkan. Berulang – ulang menyalahkan namun tak ada yang bisa aku temukan, aku hanya bisa terdiam pada satu titik.
Titik dimana aku bisa melihat dimana kakiku berpijak sekarang. Titik dimana aku menyadari bahwa aku berubah. Pola pikir dan perasaanku sedikit demi sedikit mulai berubah. Aku telah berjalan dan meninggalkan satu masa abu – abu yang sangat indah dan sulit untuk dilupakan.
Dan hal lain yang kusadari adalah,
Bahwa ternyata cinta juga mengikutiku.
Dia turut dewasa ketika aku tumbuh. Dia ikut memikirkan masa depanku ketika aku mulai dewasa. Dan dia ikut mengkhawatirkanku ketika aku akan memilih seseorang yang akan mendampingi hidupku.
Tanpa kusadari, cinta masa abu – abu itu telah dewasa. Yang tidak memikirkan bahagia hanya “untukku” atau “untukmu”. Tapi “untuk kita semua”.
Kala itu aku menggambarkan bahwa cinta itu begitu alamiah, spontan dan semua orang bisa merasakannya. Bagaimana hebatnya cinta hingga bisa menyihir dunia dalam sekejap mata. Bagaimana dahsyatnya cinta hingga kinerja hormonal dalam tubuh kita pun bisa dipengaruhi olehnya.
Itu cinta putih abu – abuku, yang sederhana, tak bersyarat, dan apa adanya. Semua hanya terfokus pada satu kata, jatuh cinta. Tak ada yang mengikuti, tak ada yang membebani. Rasa cinta kala itu seperti aliran air yang tenang, atau bagaikan hembusan angin yang menyejukkan. Semuanya membawa kedamaian dan kebahagiaan.
Seiring dengan kutanggalkan seragamku itu, kerikil mulai muncul satu persatu. Cinta bukan hanya sebatas aku dan kamu yag merasakannya. Bukan hanya kita yang harus bahagia.
Pada masa ini pula aku mengenal cinta yang bersyarat. Jatuh cinta yang tepat. Dan entah kata apalagi yang sering tak bisa kucerna dengan logika. Untuk merasakan jatuh cinta, semua jadi begitu rumit.
Mengapa tidak sesederhana dulu? Saat aku jatuh cinta tak ada yang menyalahkan atas rasa yang aku tanam. Pokoknya jatuh cinta. Titik. Semua hal didunia ini hanya tentang aku dan kamu.
Kadang aku berpikir, mengapa semua ini bisa berubah.
Setelah aku berkali – kali memaki keadaan dan tak ada yang bisa aku dapatkan. Berulang – ulang menyalahkan namun tak ada yang bisa aku temukan, aku hanya bisa terdiam pada satu titik.
Titik dimana aku bisa melihat dimana kakiku berpijak sekarang. Titik dimana aku menyadari bahwa aku berubah. Pola pikir dan perasaanku sedikit demi sedikit mulai berubah. Aku telah berjalan dan meninggalkan satu masa abu – abu yang sangat indah dan sulit untuk dilupakan.
Dan hal lain yang kusadari adalah,
Bahwa ternyata cinta juga mengikutiku.
Dia turut dewasa ketika aku tumbuh. Dia ikut memikirkan masa depanku ketika aku mulai dewasa. Dan dia ikut mengkhawatirkanku ketika aku akan memilih seseorang yang akan mendampingi hidupku.
Tanpa kusadari, cinta masa abu – abu itu telah dewasa. Yang tidak memikirkan bahagia hanya “untukku” atau “untukmu”. Tapi “untuk kita semua”.
Selasa, 19 Juli 2011
true love never die, yes or no?
Pernahkah kalian membaca cerita yang sangat melegenda diberbagai belahan dunia, Romeo and Juliet yang ditulis oleh pengarang terkenal Shakesphere?. Dan masih banyak pula berbagai cerita dengan versi yang berbeda di berbagai negara diseluruh penjuru dunia. Sebuah kisah cinta antar 2 insan manusia yang harus tersakiti karena perbedaan status sosial dan ekonomi. Saat mendengar dan membaca cerita ini semua pasti tersugesti akan adanya satu hal yang disebut True Love.
Cinta pada novel – novel klasik pasti selalu identik dengan menggambarkan cinta sebagai hal – hal yang suci dan tidak memandang perbedaan apapun. Semua menyuguhkan pada setiap mata yang membacanya bahwa cinta adalah sesuatu hal yang bersifat hakiki yang sebenarnya diberikan pada tiap – tiap hati manusia agar bisa merasakan. Merasakan pedih, tangis, suka, bahgia, kecewa, dan terluka. Pada cerita, cinta selalu memberikan dorongan sehingga mampu memberikan kekuatan yang luar biasa. Petiklah sebuah kejadian saat romeo mau meminum racun saat melihat juliet meninggal dihadapannya. Kekuatan cinta yang mendorongnya berbuat demikian. Meski sebagian orang berpikir itu adalah tindakan paling bodoh jika ia yang jadi romeonya.
Namun pernahkan terpikir dipikiran kalian, dipikiranmu atau dipikirannya, bahwa ketika kamu membaca cerita seperti itu, atau menonton film seperti itu langsung terpikir betapa cinta mereka begitu mengharukan. Betapa takdir bagi mereka begitu tidak adil. Betapa sungguh membahagiakan apabila bisa dicintai seperti itu. Semuanya akan masuk ke pikiranmu, ke mind set kalian bahwa cinta itu selalu benar, dan memang harus seperti itu adanya. Tapi jika kamu mencoba membayangkan ada diposisi romeo atau juliet, semuanya tidak semudah yang kita baca dan konflik yang terjadi tidak sesederhana yang tersaji di layar kaca. Bisa saja di dunia ini, kamu, dia, atau aku mungkin, bisa merasakan kisah cinta romeo dan juliet. Dan mengetahui bahwa sebenarnya, menjadi romeo dan juliet adalah sesuatu yang menyakitkan. Sebuah kenyataan bahwa mewujudkan True Love Never Die tidak semudah yang ada di sinetron.
Salah satu sifat cinta yang paling menyebalkan dan akhirnya menimbulkan masalah adalah bahwa sebenarnya cinta itu jorok, nggilani, dan bahasa halusnya tidak pandang bulu. Karena jatuh cinta bisa terjadi dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Saat menunggu bus, bisa saja kamu melihat kenek yang cukup tampan tersenyum padamu. Dan akhirnya jatuh cinta, membuatmu tiap hari menunggu bus itu. Atau saat kumpul di kafe, kamu melihat pelayannya yang menarik dan akhirnya jatuh cinta dan setiap hari datang ke kafe hanya untuk memperhatikannya bekerja.
Tentu tidak salah. Cinta tidak salah. Karena kita tidak bisa mengatur kapan kita harus jatuh cinta dan kapan kita dicintai. Andaikan itu bisa diatur dengan memperhatikan aspek ekonomi dan sosial, pasti tidak hanya kamu, aku pun berharap akan jatuh cinta pada aktor – aktor korea tampan yang sering ada di televisi dan dia HARUS jatuh cinta denganku pula. Andai saja cinta semudah itu.
Lupakan sejenak tentang mimpi untuk berjodoh dengan aktor korea nun jauh disana. Karena pada kenyataannya itu tidak akan mungkin terjadi kecuali kalau kamu mau jadi TKI dan bekerja dirumahnya. Jadi pembantu genit dan minta dinikahi. Namun semua tidak bisa seperti apa yang kita inginkan. Sama halnya dengan pasangan romeo dan juliet. Saat jatuh cinta, juliet tidak tahu dimana romeo bekerja, lulusan apa dia, atau anak siapa dia. Begitu pula sebaliknya. Karena mereka jatuh cinta. Titik. Satu hal yang aku yakini. Saat aku jatuh cinta. Aku tak bisa memberikan alasan apapun kenapa aku bisa jatuh cinta. Semua hanya terjadi begitu saja. Karena tiba – tiba hanya ada yang aneh disini. Didalam hati.
Cinta itu indah. Tak peduli dengan siapa kamu jatuh cinta. Kamu pasti menikmatinya. Diawal pasti sangatlah yakin dengan kekuatan cinta. Tapi ternyata tidak semudah itu. Sama dengan peran antagonis di novel maupun di sinetron. Orangtua yang memegang kunci peretakan kisah cinta itu.
Lihat saja pada cerita yang kita ketahui bersama. Orangtua juliet tidak bisa menerima romeo karena perbedaan status dan soial itu membuat romeo tak pantas untuk masuk dalam keluarganya. Mereka mati – matian memisahkan keduanya. Dan pasangan romeo dan juliet yang malang ini pun mati – matian menahan perasaanya. Semuanya jadi sulit. Dan membingungkan.
Meski sebagai penulis aku memahami keputusan yang diambil orangtua ini-yang sampai sekarang masih dilakukan-melindungi masa depan anaknya agar bisa hidup bahagia. Bahagia dalam arti tercukupi dalam materi. Tapi pasti tidak semuanya itu memiliki nilai absolut. Tidak ada yang benar 100% dan salah 100%. Semua ini hanya tentang memahami.
Pernahkah kalian melihat orangtua memaki televisi saat sepasang kekasih yang diidolakannya berpisah dalam sinetron karena dipisahkan orangtuanya? Dan pernahkah kalian mendengar dan memperhatikan ucapannya bahwa andai itu mereka, mereka akan membiarkan anak dalam sinetron itu bersatu?
Padahal jika itu benar – benar terjadi pada realita, hal itu memang biasa ditempuh. Memisahkan pasangan yang dianggap tak pantas. Tak peduli bagaimana perasaan anaknya. Dan si anak hanya bisa menangis menelungkup dalam kamar sambil memeluk guling.
Aku mencoba mengklarifikasi apa yang sebenarnya terjadi disini.
1. Cinta
menurut orang tua: Cinta hanyalah rasa klise yang hanya dibuat – buat. Membuat seseorang itu terhanyut dan tidak bisa berpikir dengan logika. Cinta bisa membuat seseorang melupakan siapa dirinya, bagaimana statusnya, dan setinggi apa derajatnya. Intinya cinta hanya akan membuat lemah karena tidak pernah berpikir secara rasional.
anak: Cinta bisa membuat nyaman, memberi kekuatan, dan bisa memberi dorongan untuk terus maju.
Karena cinta itu sederhana, dia membuat jatuh cinta dan membuat nyaman disaat kamu ada disampingnya.
2. Pasangan yang tepat
orang tua: Pasangan yang terbaik adalah orang yang bisa menjamin kehidupan dimasa depan. Bisa mampu mencukupi materi dan semua hal sehingga mudah untuk menginginkan apapun. Karena tidak ada satu orangtua pun yang ingin anaknya menjadi orang susah.
Dan pasangan yang tepat adalah orang yang SEBAIKNYA satu lingkup dengan keluarga. Baik martabat, status ekonomi dan sosial. Demi menjaga nama baik keluarga.
anak :Pasangan yang tepat adalah dia yang bisa membuatmu merasa berharga dan memahami bagaimanapun keadaanmu. Selalu ada disaat suka dan duka.
Pasangan yang tepat tidak akan membiarkan orang yang disayangi merasa sedih dan susah. Dia akan berusaha. Begitupun sebaliknya.
Pasangan yang tepat adalah dia yang mampu membuat pasangannya bahagia.
3. Masa depan
orangtua: Bibit, bebet, bobot adalah yang utama. Karena masa depan anaknya bergantung pula dari pasangannya. Cinta bisa datang seiring dengan berjalannya waktu.
Yang penting temukan orang yang tepat untuk masa depan, baru belajar mencintai satu sama lain.
anak : Masa depan tergantung dari dengan siapa kau akan menghabiskan hidup. Jika yang ada disampingmu adalah orang yang kau inginkan, semua permasalahan akan dihadapi bersama.
Karena sulit mencari orang yang bisa mencintaimu dan kau cintai sepenuh hati.
Perbedaan yang paling mencolok adalah bagaimana semakin tua umur kita, cinta itu akan dianggap sesuatu hal yang impossible. Orangtua mengedepankan martabat keluarga dan sangat memperhatikan apa yang dikatakan orang lain atas keluarganya. Namun sebagai seorang anak, kita sangat acuh akan itu semua. Mereka memegang teguh apa yang disebut cinta saat mereka muda, tapi saat telah senja, mereka bisa saja dengan mudah menyangsikan itu semua.
Perbedaan persepsi membuat semuanya menjadi sulit. Semua pihak jadi merasa tersakiti atas sikap pihak lain. Jika hal ini terjadi padamu, komunikasikanlah. Dengan orangtuamu, atau anakmu. Kejarlah kebahagiaan itu bersama. Bukan untuk membahagiakan dirimu sendiri tapi menyakiti orang lain. Pahamilah oranglain terlebih dahulu. Dengan memahami dan mendengarkan, kalian bisa mengerti satu sama lain. Dan lebih memahami bagaimana arti kebahagiaan bersama.
Tapi sepertinya penyelesaiannya hanya ada 2 pilihan. Pilihan pertama, memutuskan hubungan anaknya secara paksa dan sepihak dan menunggu agar si anak bisa jatuh cinta lagi. Dan yang kedua adalah orangtua akan setuju dan membiarkan anaknya memilih apa yang dikehendakinya.
Sejatinya aku tidak tahu apa ending dari kedua pilihan itu. Tapi yang aku yakini adalah 2 hal, jika mereka memaksa pilihan yang tidak ingin aku pilih, dan ketika suatu saat nanti aku berhasil, aku tidak akan puas atas hidupku karena mereka yang menentukan hidupku. Namun jika suatu saat pilihan yang mereka berikan itu gagal, aku akan sangat menyesal. Menyesal karena menuruti apa kata mereka dan tidak memiliki keberanian untuk mengatakan apa yang aku inginkan.
Dan disisi lain jika aku diperbolehkan mengejar atas apa yang aku pilih, apapun hasilnya, entah gagal atau berhasil. Aku tidak akan pernah menyalahkan siapapun. Termasuk orangtuaku. Dan jika suatu saat aku gagal atas pilihanku, aku tidak akan memaki keadaan dan meyalahkan pilihan yang telah kupilih. Namun aku akan bangkit karena tahu bahwa aku gagal atas pilihanku sendiri dan yakin bahwa aku mampu berhasil suatu saat nanti atas usahaku. Dan ketika saat itu datang, aku akan tersenyum lebar pada orang tuaku.
Teman,
Sebetulnya aku tidak memberikan jalan keluar apapun. Karena aku sendiri tidak tahu apa yang harus kulakukan jika aku ada diposisi itu. Tapi ini hanya sebuah sugesti, gambaran, masukan, atau apalah yang mungkin bisa sedikit membantumu untuk tidak frustasi dan berakhir pada bunuh diri. Karena bagiku cinta itu terlalu indah untuk kau tinggal mati. Cinta memberimu kisah. Cinta memberimu pelajaran yang tidak pernah diajarkan di mata kuliah apapun.
Kalimat terakhir yang ingin aku katakan adalah jika diantara kamu atau temanmu atau kakakmu atau kakak dari temanmu pernah menjadi juliet dan telah menentukan pilihan, ceritakan padaku.
Karena aku,
Tengah mejadi juliet sekarang. Dan aku belum menyelesaikan kisahku.
Cinta pada novel – novel klasik pasti selalu identik dengan menggambarkan cinta sebagai hal – hal yang suci dan tidak memandang perbedaan apapun. Semua menyuguhkan pada setiap mata yang membacanya bahwa cinta adalah sesuatu hal yang bersifat hakiki yang sebenarnya diberikan pada tiap – tiap hati manusia agar bisa merasakan. Merasakan pedih, tangis, suka, bahgia, kecewa, dan terluka. Pada cerita, cinta selalu memberikan dorongan sehingga mampu memberikan kekuatan yang luar biasa. Petiklah sebuah kejadian saat romeo mau meminum racun saat melihat juliet meninggal dihadapannya. Kekuatan cinta yang mendorongnya berbuat demikian. Meski sebagian orang berpikir itu adalah tindakan paling bodoh jika ia yang jadi romeonya.
Namun pernahkan terpikir dipikiran kalian, dipikiranmu atau dipikirannya, bahwa ketika kamu membaca cerita seperti itu, atau menonton film seperti itu langsung terpikir betapa cinta mereka begitu mengharukan. Betapa takdir bagi mereka begitu tidak adil. Betapa sungguh membahagiakan apabila bisa dicintai seperti itu. Semuanya akan masuk ke pikiranmu, ke mind set kalian bahwa cinta itu selalu benar, dan memang harus seperti itu adanya. Tapi jika kamu mencoba membayangkan ada diposisi romeo atau juliet, semuanya tidak semudah yang kita baca dan konflik yang terjadi tidak sesederhana yang tersaji di layar kaca. Bisa saja di dunia ini, kamu, dia, atau aku mungkin, bisa merasakan kisah cinta romeo dan juliet. Dan mengetahui bahwa sebenarnya, menjadi romeo dan juliet adalah sesuatu yang menyakitkan. Sebuah kenyataan bahwa mewujudkan True Love Never Die tidak semudah yang ada di sinetron.
Salah satu sifat cinta yang paling menyebalkan dan akhirnya menimbulkan masalah adalah bahwa sebenarnya cinta itu jorok, nggilani, dan bahasa halusnya tidak pandang bulu. Karena jatuh cinta bisa terjadi dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Saat menunggu bus, bisa saja kamu melihat kenek yang cukup tampan tersenyum padamu. Dan akhirnya jatuh cinta, membuatmu tiap hari menunggu bus itu. Atau saat kumpul di kafe, kamu melihat pelayannya yang menarik dan akhirnya jatuh cinta dan setiap hari datang ke kafe hanya untuk memperhatikannya bekerja.
Tentu tidak salah. Cinta tidak salah. Karena kita tidak bisa mengatur kapan kita harus jatuh cinta dan kapan kita dicintai. Andaikan itu bisa diatur dengan memperhatikan aspek ekonomi dan sosial, pasti tidak hanya kamu, aku pun berharap akan jatuh cinta pada aktor – aktor korea tampan yang sering ada di televisi dan dia HARUS jatuh cinta denganku pula. Andai saja cinta semudah itu.
Lupakan sejenak tentang mimpi untuk berjodoh dengan aktor korea nun jauh disana. Karena pada kenyataannya itu tidak akan mungkin terjadi kecuali kalau kamu mau jadi TKI dan bekerja dirumahnya. Jadi pembantu genit dan minta dinikahi. Namun semua tidak bisa seperti apa yang kita inginkan. Sama halnya dengan pasangan romeo dan juliet. Saat jatuh cinta, juliet tidak tahu dimana romeo bekerja, lulusan apa dia, atau anak siapa dia. Begitu pula sebaliknya. Karena mereka jatuh cinta. Titik. Satu hal yang aku yakini. Saat aku jatuh cinta. Aku tak bisa memberikan alasan apapun kenapa aku bisa jatuh cinta. Semua hanya terjadi begitu saja. Karena tiba – tiba hanya ada yang aneh disini. Didalam hati.
Cinta itu indah. Tak peduli dengan siapa kamu jatuh cinta. Kamu pasti menikmatinya. Diawal pasti sangatlah yakin dengan kekuatan cinta. Tapi ternyata tidak semudah itu. Sama dengan peran antagonis di novel maupun di sinetron. Orangtua yang memegang kunci peretakan kisah cinta itu.
Lihat saja pada cerita yang kita ketahui bersama. Orangtua juliet tidak bisa menerima romeo karena perbedaan status dan soial itu membuat romeo tak pantas untuk masuk dalam keluarganya. Mereka mati – matian memisahkan keduanya. Dan pasangan romeo dan juliet yang malang ini pun mati – matian menahan perasaanya. Semuanya jadi sulit. Dan membingungkan.
Meski sebagai penulis aku memahami keputusan yang diambil orangtua ini-yang sampai sekarang masih dilakukan-melindungi masa depan anaknya agar bisa hidup bahagia. Bahagia dalam arti tercukupi dalam materi. Tapi pasti tidak semuanya itu memiliki nilai absolut. Tidak ada yang benar 100% dan salah 100%. Semua ini hanya tentang memahami.
Pernahkah kalian melihat orangtua memaki televisi saat sepasang kekasih yang diidolakannya berpisah dalam sinetron karena dipisahkan orangtuanya? Dan pernahkah kalian mendengar dan memperhatikan ucapannya bahwa andai itu mereka, mereka akan membiarkan anak dalam sinetron itu bersatu?
Padahal jika itu benar – benar terjadi pada realita, hal itu memang biasa ditempuh. Memisahkan pasangan yang dianggap tak pantas. Tak peduli bagaimana perasaan anaknya. Dan si anak hanya bisa menangis menelungkup dalam kamar sambil memeluk guling.
Aku mencoba mengklarifikasi apa yang sebenarnya terjadi disini.
1. Cinta
menurut orang tua: Cinta hanyalah rasa klise yang hanya dibuat – buat. Membuat seseorang itu terhanyut dan tidak bisa berpikir dengan logika. Cinta bisa membuat seseorang melupakan siapa dirinya, bagaimana statusnya, dan setinggi apa derajatnya. Intinya cinta hanya akan membuat lemah karena tidak pernah berpikir secara rasional.
anak: Cinta bisa membuat nyaman, memberi kekuatan, dan bisa memberi dorongan untuk terus maju.
Karena cinta itu sederhana, dia membuat jatuh cinta dan membuat nyaman disaat kamu ada disampingnya.
2. Pasangan yang tepat
orang tua: Pasangan yang terbaik adalah orang yang bisa menjamin kehidupan dimasa depan. Bisa mampu mencukupi materi dan semua hal sehingga mudah untuk menginginkan apapun. Karena tidak ada satu orangtua pun yang ingin anaknya menjadi orang susah.
Dan pasangan yang tepat adalah orang yang SEBAIKNYA satu lingkup dengan keluarga. Baik martabat, status ekonomi dan sosial. Demi menjaga nama baik keluarga.
anak :Pasangan yang tepat adalah dia yang bisa membuatmu merasa berharga dan memahami bagaimanapun keadaanmu. Selalu ada disaat suka dan duka.
Pasangan yang tepat tidak akan membiarkan orang yang disayangi merasa sedih dan susah. Dia akan berusaha. Begitupun sebaliknya.
Pasangan yang tepat adalah dia yang mampu membuat pasangannya bahagia.
3. Masa depan
orangtua: Bibit, bebet, bobot adalah yang utama. Karena masa depan anaknya bergantung pula dari pasangannya. Cinta bisa datang seiring dengan berjalannya waktu.
Yang penting temukan orang yang tepat untuk masa depan, baru belajar mencintai satu sama lain.
anak : Masa depan tergantung dari dengan siapa kau akan menghabiskan hidup. Jika yang ada disampingmu adalah orang yang kau inginkan, semua permasalahan akan dihadapi bersama.
Karena sulit mencari orang yang bisa mencintaimu dan kau cintai sepenuh hati.
Perbedaan yang paling mencolok adalah bagaimana semakin tua umur kita, cinta itu akan dianggap sesuatu hal yang impossible. Orangtua mengedepankan martabat keluarga dan sangat memperhatikan apa yang dikatakan orang lain atas keluarganya. Namun sebagai seorang anak, kita sangat acuh akan itu semua. Mereka memegang teguh apa yang disebut cinta saat mereka muda, tapi saat telah senja, mereka bisa saja dengan mudah menyangsikan itu semua.
Perbedaan persepsi membuat semuanya menjadi sulit. Semua pihak jadi merasa tersakiti atas sikap pihak lain. Jika hal ini terjadi padamu, komunikasikanlah. Dengan orangtuamu, atau anakmu. Kejarlah kebahagiaan itu bersama. Bukan untuk membahagiakan dirimu sendiri tapi menyakiti orang lain. Pahamilah oranglain terlebih dahulu. Dengan memahami dan mendengarkan, kalian bisa mengerti satu sama lain. Dan lebih memahami bagaimana arti kebahagiaan bersama.
Tapi sepertinya penyelesaiannya hanya ada 2 pilihan. Pilihan pertama, memutuskan hubungan anaknya secara paksa dan sepihak dan menunggu agar si anak bisa jatuh cinta lagi. Dan yang kedua adalah orangtua akan setuju dan membiarkan anaknya memilih apa yang dikehendakinya.
Sejatinya aku tidak tahu apa ending dari kedua pilihan itu. Tapi yang aku yakini adalah 2 hal, jika mereka memaksa pilihan yang tidak ingin aku pilih, dan ketika suatu saat nanti aku berhasil, aku tidak akan puas atas hidupku karena mereka yang menentukan hidupku. Namun jika suatu saat pilihan yang mereka berikan itu gagal, aku akan sangat menyesal. Menyesal karena menuruti apa kata mereka dan tidak memiliki keberanian untuk mengatakan apa yang aku inginkan.
Dan disisi lain jika aku diperbolehkan mengejar atas apa yang aku pilih, apapun hasilnya, entah gagal atau berhasil. Aku tidak akan pernah menyalahkan siapapun. Termasuk orangtuaku. Dan jika suatu saat aku gagal atas pilihanku, aku tidak akan memaki keadaan dan meyalahkan pilihan yang telah kupilih. Namun aku akan bangkit karena tahu bahwa aku gagal atas pilihanku sendiri dan yakin bahwa aku mampu berhasil suatu saat nanti atas usahaku. Dan ketika saat itu datang, aku akan tersenyum lebar pada orang tuaku.
Teman,
Sebetulnya aku tidak memberikan jalan keluar apapun. Karena aku sendiri tidak tahu apa yang harus kulakukan jika aku ada diposisi itu. Tapi ini hanya sebuah sugesti, gambaran, masukan, atau apalah yang mungkin bisa sedikit membantumu untuk tidak frustasi dan berakhir pada bunuh diri. Karena bagiku cinta itu terlalu indah untuk kau tinggal mati. Cinta memberimu kisah. Cinta memberimu pelajaran yang tidak pernah diajarkan di mata kuliah apapun.
Kalimat terakhir yang ingin aku katakan adalah jika diantara kamu atau temanmu atau kakakmu atau kakak dari temanmu pernah menjadi juliet dan telah menentukan pilihan, ceritakan padaku.
Karena aku,
Tengah mejadi juliet sekarang. Dan aku belum menyelesaikan kisahku.
Senin, 13 Juni 2011
all thing about alone
Ketika rasa dan asa lenyap seketika lalu pergi entah kemana, saat hasrat dan mimpi ikut lebur dalam semua hal yang telah lalu, semua hal berubah menjadi hampa. Kosong dan tak bermakna.
Jika hal ini pernah terjadi padamu, izinkan aku menggambarkan apa yang terjadi padamu.
Waktu berlalu begitu cepatnya sampai aku tak pernah merasa telah mewarnai hariku hari ini. Begitu pula kemarin dan kemarinnya lagi. Seperti kehilangan semangat hingga tak tahu harus melakukan apa. Segalanya terasa tak lagi menarik. Meski terkadang hati ini berbisik “ingin”, tapi yang kulakukan hanya terpekur diam dan tak melakukan apapun.
Rasanya sulit ketika harus menceritakan kembali bagaimana rasa bahagia itu. Seperti hal itu telah lama sekali kita tidak ingat. Semuanya jadi membosankan, monoton, tak ada lagi gairah untuk berjalan cepat, tertawa lepas.
Pernahkah kau mengalaminya? Saat semuanya terasa hambar. Saat tak ada hal lain yang ingin dilakukan selain diam dan mencoba melamunkan apa yang ingin dilamunkan. Mencoba menerka – nerka apa yang sedang otak kita pikirkan. Mencoba mencari apa yang ingin kita inginkan. Tapi akhirnya jalan terakhir yang dilakukan hanyalah diam, dan menatap apapun dengan pandangan kosong. Dan menganggap apapun seperti bergerak cepat sedangkan kita terjebak dalam dunia kita sendiri. seperti melihat dunia ini hanya dipenuhi dua warna. Hitam dan putih.
Sendiri itu ternyata tidak menyenangkan. Dan sendirian ternyata memiliki keadaan yang lebih parah dari itu.
Saat merasa kesepian, dalam diam otak ini membangun semua hal seperti apa yang diinginkan. Yang tidak terjadi dalam kenyataan. Tapi akhirnya semuanya hancur dengan kata bosan. Bosan tidak melakukan apapun. Bosan tidak tahu harus melakukan apa. Bosan karena tidak tahu harus bagaimana. Semuanya jadi serba rumit dan akhirnya mempengaruhi ego kita. Memaki keadaan adalah jalan yang selalu dipilih untuk mengekspresikan perasaan.
Tahukah kalian saat aku menulis ini akupun sedang memaki keadaan?
Karena aku sangat tak suka diam. Benci sendiri, apalagi sendirian.
Jika kalian ada yang sangat bisa menikmati rasa sendiri itu, tolong ajarkan padaku.
Jika hal ini pernah terjadi padamu, izinkan aku menggambarkan apa yang terjadi padamu.
Waktu berlalu begitu cepatnya sampai aku tak pernah merasa telah mewarnai hariku hari ini. Begitu pula kemarin dan kemarinnya lagi. Seperti kehilangan semangat hingga tak tahu harus melakukan apa. Segalanya terasa tak lagi menarik. Meski terkadang hati ini berbisik “ingin”, tapi yang kulakukan hanya terpekur diam dan tak melakukan apapun.
Rasanya sulit ketika harus menceritakan kembali bagaimana rasa bahagia itu. Seperti hal itu telah lama sekali kita tidak ingat. Semuanya jadi membosankan, monoton, tak ada lagi gairah untuk berjalan cepat, tertawa lepas.
Pernahkah kau mengalaminya? Saat semuanya terasa hambar. Saat tak ada hal lain yang ingin dilakukan selain diam dan mencoba melamunkan apa yang ingin dilamunkan. Mencoba menerka – nerka apa yang sedang otak kita pikirkan. Mencoba mencari apa yang ingin kita inginkan. Tapi akhirnya jalan terakhir yang dilakukan hanyalah diam, dan menatap apapun dengan pandangan kosong. Dan menganggap apapun seperti bergerak cepat sedangkan kita terjebak dalam dunia kita sendiri. seperti melihat dunia ini hanya dipenuhi dua warna. Hitam dan putih.
Sendiri itu ternyata tidak menyenangkan. Dan sendirian ternyata memiliki keadaan yang lebih parah dari itu.
Saat merasa kesepian, dalam diam otak ini membangun semua hal seperti apa yang diinginkan. Yang tidak terjadi dalam kenyataan. Tapi akhirnya semuanya hancur dengan kata bosan. Bosan tidak melakukan apapun. Bosan tidak tahu harus melakukan apa. Bosan karena tidak tahu harus bagaimana. Semuanya jadi serba rumit dan akhirnya mempengaruhi ego kita. Memaki keadaan adalah jalan yang selalu dipilih untuk mengekspresikan perasaan.
Tahukah kalian saat aku menulis ini akupun sedang memaki keadaan?
Karena aku sangat tak suka diam. Benci sendiri, apalagi sendirian.
Jika kalian ada yang sangat bisa menikmati rasa sendiri itu, tolong ajarkan padaku.
Langgan:
Entri (Atom)