Bibir tak dapat menolak dan hatipun tak bisa menyangkal jika masa–masa SMA adalah masa yang paling indah. Ada banyak hal yang membuatnya indah. Salah satunya adalah Cinta. Perasaan Cintalah yang mendominasi saat remaja usia SMA. Ketika mereka punya keinginan mengenal lawan jenis, memiliki, mengidolakan publik figur. Cintalah bumbunya. Segala akan menjadi indah.Cinta yang sering membuat kita tertawa dan menangis dalam waktu yang bersamaan. Cinta tak akan tuntas jika dibahas dalam 2 jam pelajaran saja, dan juga tak akan habis bila bila ditulis. Cinta bisa dibilang aneh dan misterius, tapi cinta juga menyenangkan dan menarik untuk dijelajahi.
Setiap orang memiliki persepsi masing – masing mengenai cinta. Seperti salah seorang guruku yang mengungkapkan bahwa cinta itu seperti lilin, yang gampang meleleh jika dipanaskan. Jadi kalo aku menyimpulkan kalau cinta itu lama–lama akan meredup seiring berjalannya waktu. Seperti lilin pasti meleleh jika dinyalakan. Perlahan tapi pasti.
Tak salah jika ada yang berpendapat seperti itu, Ziggers boleh setuju boleh tidak sebab hal ini sangat demokratis untuk dibicarakan. Tapi saya jadi yakin pasti ada orang yang setuju dengan perumpamaan itu.
Kalau bagiku, cinta itu seperti mawar. Penuh duri namun tetap indah. Sehingga banyak orang tetap mau berdekat–dekatan dengan cinta. Meski mereka tahu luka yang akan dibuat duri itu pasti tajam dan dalam. Kalau tidak silahkan dicoba. Saat suasana hati sedang patah hati, pasti perih, sakit, dan dalam.
Memang aneh, dengan pengalaman patah hati yang menyakitkan, malahan membuat orang tidak jera akan cinta. Mereka semakin dekat dan akrab dengan yang namanya cinta.
Bagi sebagian remaja, cinta itu kebutuhan. Sepi jika cinta itu tak ada, namun sakit saat cinta itu pergi dan meninggalkan luka. Sungguh sulit untuk mencari obat atau penawarnya. Upaya yang biasanya dilakukan adalah dengan mencari cinta yang lain. Tapi bukankah jika cinta itu pergi lagi rasa sakit yang telah ada akan kambuh & bahkan makin parah...?
Waktu yang selalu bergulir membuat pelaku-pelaku cinta tidak setulus dulu, tidak sesuci dulu dan tidak sejujur dulu. Bahkan banyak prinsip yang dilanggar. Dengan mudahnya mereka mengumbar cinta dan menerima cinta. Tak pernah terpikir jika itu hanyalah kabut kebohongan. Semuanya jadi tak terlihat, hanya bisa dirasakan. Bahkan oleh akal waras sekalipun.
Asal hati merasa senang dan nyaman, dengan mudahnya kita beranggapan bahwa itulah cinta. Andai kita memahami jika saat kekasih kita selingkuh ia juga mengatakan cinta pada orang lain. Entah satu atau lebih. Setelah putus pasti juga dengan mata terpejam mampu mengatakan kata cinta pada orang lain. Setelah dulu berjanji setia dan berucap sumpah pada Sang Kekasih. Memang masalahnya tidak sesederhana ini. Banyak hal diluar logika kita yang mempengaruhi.
“
Kau yang bilang aku terbaik untukmu
Kau yang bilang aku malaikat cintamu
Itu bohong…...... Itu palsu……....
tu bohong…...... Itu palsu……....
“
Penggalan lirik lagu Malaikat Cinta-nya Kapten telah mengingatkan kita supaya semua orang berhati–hati dengan cinta. Tapi jika ziggers memutuskan untuk menikmati cinta, berarti ziggers juga siap menerima luka.(*)
0 komentar:
Poskan Komentar