Sabtu, 25 Oktober 2008

guru itu...

Guru itu....

dalam dunia pendidikan akan terlibat dua pihak, yakni antara yang diajar dan yang mengajar. tentu semua orang pernah merasakan sebagai pihak yang diajar, atau disebut murid dalam kosa kata yang lebih resmi. pasti kita pernah mengalami menjadi seorang murid, menjadi objek yang akan dijejali berbagai macam aspek pengetahuan yang bisa membuatnya "lebih" di masa mendatang. sedangkan murid sendiri tentu akan memperhatikan, mencanangkan dan menanamkan pelajaran yang diperoleh dari pihak yang mengajar dengan kata lain oleh seorang guru.
kata guru sendiri berasal dari singkatan bahasa jawa sebagai seorang yang digugu-ditiru yang membuat kita tunduk dari tatapan matanya, meng-iyakan segala ucapannya, dan mentaati apapun yang diperintahkannya. namun hal inilah yang kini justru disalahgunakan. jika dulu profesi guru begitu dimuliakan karena dianggap sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, karena membimbing muri-muridnya dengan tulus ikhlas. tapi, agaknya perumpamaan itu ikut tergilas oleh zaman matrepolis, ga ada uang, ya ga usah sekolah! peristiwa masa lalu yang membuat mereka sebagai orang tua menaruh kepercayaan besar kepada guru. guru mampu mencerdaskan dengan kesabaran dan kegigihan. hal inilah yang membuat kaum guru disegani. tapi tetap berbeda jika ditilik dari pandangan umum di era sekarang. guru mampu mencerdaskan dengan atau tanpa kesabaran dan kegigihan asal ada uang. uang layaknya menjadi satu komponen penting dalam hal mencerdaskan seseorang.
di kalangan masyarakat sendiri beredar kabar jikalau dulu muridlah yang mencari guru. namun sekarang? ho...ho... dunia sudah jungkir balik! tak ayal jika telah menjadi rahasia umum kalau murid memberi materi, guru memberi nilai. penerapan simbiosis mutualisme yang baik namun keji!
masalah kepandaian? Tuhan tentu tidak bisa diajak kompromi layaknya penolong bersyarat rupiah itu bukan? tanpa usaha, sekali nol, tetap nol dan selamanya nol.
bisa diumpamakan guru menawarkan kepandaian semu demi mendapatkan materi, sedangkan murid mau mengumbar materi demi mendapatkan kepandaian semu. praktik bisnis antara guru dengan murid ini harus segera dihentikan, karena jika dipikir secara logis maupun matematis jumlah siswa yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata bisa semakin berkurang. hingga akibat terburuknya tak ada lagi orang pandai karena yang mereka miliki hanyalah kepandaian yang sifatnya semu. lalu siapa nanti yang akan menjadi guru sebagai penyalur ilmu?
guru...
guru seperti apa yang kami harapkan?
guru yang bagaimana yang kami inginkan?
beliau yang akan selalu tersenyum melihat ulah kami, karena beliau tahu bahwa tugas beliaulah untuk membimbing kami ke jalan yang lebih baik.
beliau yang tak pernah putus asa dalam mengajari kami segala sesuatu yang kami tidak mengertu, karena beliau yakin kewajiban beliaulah untuk membuat kami tahu dan mengerti.
dan beliau juga pasti tahu dan yakin bahwa mengajar tanpa kekerasan fisik maupun mental yang bertopeng kedisiplinan akan membuat murid-murid jauh lebih bersemangat untuk pergi ke sekolah.
dan kami sebagai murid memiliki keyakinan bahwa prestasi yang kami capai justru akan jauh lebih membanggakan beliau dibanding materi.
senyum dibibir kami adalah tangis kebahagiaan di benak beliau.
seperti itulah guruku.

0 komentar: