Kerlip bintang malam nan cantik tampak malu-malu menyunggingkan senyumnya dan asyik bercanda dengan sahabat sejatinya, bulan. Sahabat . . . tragis ku kenang kata itu. Tatapanku serasa kosong, di pelupuk mataku bertetes-tetes air mataku bersiap-siap menetes keluar. Ku pandang kelamnya malam, segelap dan segalau hatiku.
#####
Pagi di sekolah. . .
Saat kulangkahkan kaki masuk ke kelas, kurasakan sorot mata tajam dan aneh dari teman-teman. Kelas yang mulanya riuh dan ramai tentang PR, menjadi sunyi seketika.
Dengan perlahan aku berjalan menuju bangkuku masih dengan ekspresi seakan mencemooh dari teman-teman. Aku hanya berpikir,”mungkin hanya perasaanku saja”.
Mungkin itu adalah kata-kata paling bijak untuk menenangkan hatiku sendiri. Bahkan saat pelajaran Pkn di mulai, rasa penasaran masih belum hilang di benakku.”siapa yang mau memberikan pendapat mengenai pemerintahan Adolf Hitler?” tanya Bu Alifah
Teman-teman masih berbisik-bisik ria dan mengomel entah tentang apa. Kuacungkan jari.”ya icha septiani. . . apa opini kamu?” tanya Bu Alifah
Seperti ada yang memberi perintah, kelas serentak sepi bak kuburan. Aku hanya terdiam tak mengerti dan kubaca sinar mata teman-teman yang seakan berkata. . .
”sok pinter. . .!!!”
”cari perhatian aja sich!”
”kamu?? Apa bisa??”
Kata-kata seperti itulah yang sepertinya ku baca. Ku tarik nafas dalam dan tetap cuek.”Adolf Hitler pernah memerintah di Jerman dengan Nazi-nya dan mengutamakan prinsip militer dan sangat totaliter. Baginya jika kekuasaan diberikan pada 1 orang, maka rakyat dapat tertib. . . ” ujarku panjang lebar
Bu Alifah tersenyum puas.”bagus sekali. . . berikan tepuk tangan untuk icha. . .”ujar Bu Alifah. Tapi tak seorangpun murit yang menggerakkan tangannya untuk bertepuk tangan. Senyumku karena mendapat pujian dari Bu Alifah, sontak sirna
”ya sudah. . . kita lanjutkan materi,” kata Bu Alifah
Jam ke 7-8 yang kosong, ku buat untuk berpikir.”mengapa seperti ini?” tanya kata hatiku. Bahkan saat aku ingin curhat dengan sahabat terbaikku, chika, diapun sangat-tampak jelas sekali- menghindariku.
Emosiku pun memuncak
”Chika, aku mau ngomong sebenta,” pintaku untuk kesekian kalinya
”aku lagi mau ke kantin,” ujarnya sambil melangkah menjauhiku
Kutarik tangannya hingga ia berpaling menghadapku ”kamu kenapa sich?? Koq jadi gini?” tanyaku
”maksudnya?” katanya enteng
Aku makin geram saat melihat tatapan yang seakan bicara”apa urusanku ma kamu?” dan inilah puncak kemarahan yang sedari pagi ku tahan. Disaksikan teman sekelas, kuucapkan kata-kata yang benar-benar kusesali.”kenapa kamu jadi aneh? Apa salahku sampai kamu jauhin aku?? Apa?? Padahal gak pernah sedikitpun aku pergi saat kamu sedih, gak pernah aku ninggalin kamu saat gak ada satupun orang yang mau dengerin kamu?! Tapi apa balasannya Chika???” teriakku.” aku menyesal berteman dan jadi sahabat kamu, dasar sahabat gak tau terima kasih!!” lanjutku.
Sekilas kulihat ekspresinya yang marah dan benar-benar sakit hati. Chika hampir bicara , tapi tiba-tiba. . .
” HAPPY B’DAY ICHA!!!” serempak teman sekelasku melempar tepung, sirop, air, dll ke tubuhku. Suasana sangat ramai, tak kusangka ini adalah bagian dari hadiah ultahku.” aku dikerjain dan berhasil banget,” ucapku dalam hati.
” ini idenya Chika lho. . .,” ucap beberapa temanku
Aku tersentak. Entah sejak kapan aku tak melihat sosoknya, tasnya pun telah tak ada di bangkunya. Aku teringant sorot matanya yang oenuh amarah saat aku mencelanya. Memori saat kami bercanda, menggoda, tertawa, menangis jahil, bahkan yang paling unik berkelebat hebat dalam otakku.
Kata” sahabat gak tau diri” berputar berkali-kali dalam pikiranku.
Chika telah pergi.
#####
Air mataku mengalur deras mengingat kejadian pagi itu. Apalagi hingga sore Chika belum juga sampai dirumahnya. Berkali-kali kutelepon rumahnya. Jawabannya tetap sama” Chika masih belum pulang”. Hingga malamnya kudengar kabar bahwa Chika kecelakaan dan kini sedang koma.
Hatiku hancur, beribu pedang seakan menusuk jantungku. Butir-butir embun menetes dengan cantik ibarat air mataku yang tak kunjung habis. Kusesali segalanya, semuanya.
Keheningan malam dan sunyinya pekat membawa doa’ku untuk Chika. Melodi angin seperti melantunkan lagu yang syairnya hanya. . .
Maafkan aku sahabat. . .
Nama: amizatul rozalia indah
No. Absen :05
Kelas :xi-ia 1
0 komentar:
Poskan Komentar