selalu menjadi kebiasaanku tak pernah mengungkapkan apa yang kurasakan, menceritakan apa yang aku alami, namun ketika datang rasa untuk bercerita, mengungkapkan sesuatu itu dengan cara lain, keberanian untuk berekspresi pun muncul.
sebuah media cetak sekolah yang membuatku tertarik untuk merasa "dianggap" di Sekolah Menengah Pertama yang terkenal bonavit seantero bojonegoro ini.
layaknya seorang profesional, kutorehkan pena dengan semangat yang menggebu-gebu. acuh akan penggunaan kata yang bisa membuat karangan terlihat indah. kala itu yang kubisa hanyalah menulis cerpen. dalam seminggu paling tidak aku memiliki 2-3 cerpen yang berhasil kuciptakan. namun saat kuperlihatkan kepada kakakku, ia hanya mengucapkan 3 kata, dan disinilah aku mempelajari hal yang sering dilakukan penulis:
"berbesar hati menerima kritikan".
3 kata yang diucapkan kakakku adalah membosankan dan mudah ditebak.
kubaca lagi beberapa karyaku, kucari kesalahanku. dan 2 pelajaran langsung kudapatkan lagi;"Berani mencoba dan jangan takut akan kegagalan".
butuh waktu untuk menemukan kesalahanku, dan ternyata kelemahan ceritaku adalah terlalu monoton, tanpa rasa dan semua cerita itu sudah pernah ada sehingga bisa ditebak.
terus menulis dan menulis, mencoba mengungkapkan apa yang kurasa lewat rangkaian kata. dan saat menginjak bangku SMA, kurentangkan sayapku. tak hanya menulis cerpen yang kupelajari, artikel, opini dan berita pun kujelajahi.
tak pernah kurasa letih untuk mengarungi samudra jurnalistik.
0 komentar:
Poskan Komentar