Selasa, 31 Maret 2009

Tugas ZZ: Merajut jalan cita - cita

Semua manusia hidup tentu memiliki tujuan. Sebuah angan yang beruasaha untuk dirajut keberadaannya. seutas benang yang mencoba untuk terus kita rajut menjadi sehelai kain dengan motif yang kita harapkan. Meski agak terlau puitis, tapi itulah gambaran tujuan hidup bagiku. tujuan hidup yang lebih nyaring dibicarakan dengan nama Cita - Cita.
memetik kalimat dalam sebuah novel Andrea Hirata yang kuakui kebenarannya, "Semua manusia adalah sama. Yang membedakan adalah semangat menghadapi dan menjalani hidup" termasuk semangat dalam menggapai cita - cita. Semua insan di dunia ini tentu memiliki cita - cita. Namun terkadang cita - cita itu hanya berakhir menjadi sebuah angan kosong. Banyak orang hanya berani bermimpi, berangan dan berkhayal tanpa berani berusaha mewujudkannya. Dan kata yang tepat untuk melukiskan orang - orang seperti itu adalah: Pecundang.
Namun di sisi lain ada pula makhluk - makhluk tak berdaya yang akhirnya kecewa karena mimpi atau cita - cita mereka kandas di tengah jalan. Dan berbagai cobaan dan rintangan yang sanggup menggoyahkan iman kita saat kita ingin merajut jaring - jaring mimpi, melanda kita saat kita beranjak remaja. Saat hati kita belum memiliki pegangan, emosi kita masih belum stabil, dan pikiran kita masih rancu dalam membedakan yang benar dan salah. Cita - cita kita terombang - ambing disini.
Saya, Kamu atau Kita Semua yang masih berstatus sebagai siswa yang tengah membangun jalan untuk mewujudkan mimpi, sebenarnya pun tengah menghadapi kesulitan yang kasat mata. Kesulitan yang begitu dicemaskan banyak orang tua. Pergaulan, Tekhnologi dan Lingkungan, benar - benar menentukan nasib kita. Kita harus pandai dalam memilih dan memilah agar kita tidak salah.
Ada kalanya kita begitu senang saat bersama teman - teman, bercanda ria, bergosip, nongkrong, jalan - jalan, belanja, dan banyak rutinitas yang sebenarnya tidak terlalu penting tapi menyerap sebagian besar waktu kita. Saat orang tua kita tidak memperbolehkan kita untuk Hang Out, kita langsung memiliki pikiran negatif. Orang tua kolot lah, ga' gaul lah, cerewet lah, dan banyak berbagai makian yang lama - lama menggunung saat frekuensi kemarahan mereka bertambah di setiap harinya.
Berbagai tawaran menarik dari begitu banyak GSM maupun CDMA membuat kita tak ingin jsuh - jauh dari Counter Pulsa. Menyambangi Counter seperti menjadi rutinitas yang sangat penting daripada singgah ke perpustakaan atau toko buku. Guru yang mengajar dengan semangat pun kalah dengan getar Handphone yang begitu pelan. Hingga rutinitas SMSan saat pelajaran sudah seperti membaca kata "Amin" setelah membaca surat Al-Fatihah. Belum lagi berbagai sinetron, film maupun reality show yang terus diminati daripada channel pengetahuan yang makin lama kian lenyap.
Melihat banyak orang disekitar kita yang asyik tertawa maupun bernyanyi pasti membuat iri hati kita saat kita tengah membaca buku pelajaran yang sangat membosankan. Ketika pikiran telah seperti itu, pandangan soal buku telah berubah. Bukan lagi gudang ilmu maupun jendela dunia, tapi buku monoton yang begitu monoton, membosankan dan sangat tidak menghibur. Dan entah darimana, keberanian melempar buku jauh - jauh dan berlari bergabung dengan keramaian semua tetangga di sekitar kita seperti menjadi ending cerita yang sudah rutin diputar.
Tanpa kita sadari, itulah yang sedang melanda kita. Yang mengobrak - abrik jalan cita - cita yang tengah kita bangun. Menurunkan semangat belajar dan juang kita dalam memerangi rintangan untuk mencapai cita - cita. Oleh karena itu sepatutnya kita benar - benar membentengi hati kita. Buka mata kita dan berpikiranjanglah jauh ke depan. Jangan sampai kita hanya menuruti kesengangan sesaat yang akhirnya membuat kita menyesal selamanya. Saat teman sekelas kita asyik jalan - jaln atau ngobrol ngalor ngidul yang tidak bermanfaat, tetap pegang teguh prinsip untuk selalu belajar. Ketika dering Handphone yang dengan merdunya merayu kita untuk diangkat atau membuka sms, lebih baik matikan. Daripada memcah konsentrasi belajar, dan menurunkan minat kita terhadap apa yang tengah kita tekuni. Saat yang lain tengah asyik dengan kegiatannya yang menurut kita sia - sia. Tetap berpikir positif bahwa apa yang kita lakukan adalah benar.
Untuk menggapai cita - cita memerlukan keringat yang tidak lain adalah pengorbanan. Untuk menghasilkan keringat kita harus bekerja dan mengalami rasa sakit atau pahit yang dalam relaita adalah usaha dan semangat. Namun yakinlah bahwa berbagai usanha yang telah kita lakukan, kobaran semangat yang selalu menyala, akan terbayar di kemudian hari. Dan bayaran yang kita dapatka adalh kebahagiaan yang dapat pula dirasakan orang - orang terdekat kita.

1 komentar:

Eka Edawati mengatakan...

If your reality start from your dream, your dream will be your reality.... dream as wild as ou can for your future