Jumat, 16 Oktober 2009

Dikenal Tapi Tak Mengenal

Pernah menjadi kota kecil terbersih di era 70-n maupun 80-an merupakan kebanggaan tersendiri bagi Bojonegoro. Sebuah kota kecil yang turut menghias salah satu sudut di provinsi Jawa Timur. Sebuah kabupaten yang cukup dibanggakan penduduknya, dan cukup disegani kota – kota disekitarnya karena berisi masyarakat yang begitu ramah dalam bertutur sapa.
Tak terasa Bojonegoro tercinta ini telah kembali menambah kematangannya. Laskar Angling Dharma telah berubah wajahnya disbanding setahun yang lalu. Dengan perayaan ke 332 yang jatuh pada tanggal 17 oktober 2009 esok. Tangan – tangan yang baru dengan semangat yang sama dalam memajukan bojonegoro di masa mendatang. Semangat hari jadi untuk bersama – sama memmbuat Bojonegoro lebih baik di hari – hari selanjutnya.
Tapi sayangnya, semarak hari jadi bojonegoro sama sekali tidak mendapat ruang disudut hati kami sebagai pelajar di Bojonegoro. Bagaikan menghadiri acara ulang tahun orang yang tidak dikenal. Semuanya berlalu begitu saja. Tak berbekas. Terkadang aku pun tidak mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menunjukkan jika aku sedang ikut menyemarakkannya. Sedangkan angina kencang yng dihembuskan punggawa – punggawa besar kota bojonegoro tak sampai ke sekolahku atau pelajar – pelajar yang lain. Kami bagai hidup dibalik tembok beton yang buta akan keadaan yang tengah terjadi. Tak ada perbedaan. Semuanya biasa – biasa saja.
Kami seperti di tuding oleh beribu – ribu tangan sebagai kacang yang lupa kulitnya. Kami tahu tentang sejarah ASEAN. Kami mampu menceritakan hebatnya Perang Dunia I maupun II. Tapi mengapa sejarah kota Bojonegoro kami tak pernah tahu? Bahkan mungkin tak pernah mendengar. Sedangkan aku atau pelajar lain yang lahir dan menuntut ilmu di Bojonegoro menjadi merasa malu. Menyandang predikat sebagai generasi muda yang lupa akan tanah kelahirannya, kota kecil yang membesarkan namanya, membuat kami merasa tercambuk. Di salah satu ruang hati kami, kami sangat ingin mengenal tanah kelahiran yang memperbolehkan kami semua tumbuh diatasnya, sukses diatasnya.
Saya dan tentu banyak orang lainnya ingin memberikan yang terbaik untuk kota kecil yang sangat kami sayangi. Tapi kami takut, kami malu. Karena kami belum mengenal kota kelahiran kami, sebaik ia mengenal dan melihat kami tumbuh.

0 komentar: