Ku coba merangkai kata lagi. Seakan jemari ini tak pernah lelah menggambarkan apa yang ingin kubagi dan kusampaikan. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi teman – temanku. Mencoba membagi apa yang sebenarnya kita rasa bersama.
Kala hati ini telah lelah membahas tentang cinta, saat otak ini telah penat untuk menciptakan kreasi, jalan yang bisa kutempuh hanyalah mencari inspirasi. Maka segala hal yang sepertinya tak lagi berguna disekitarku, kembali kusingkap satu persatu.
Tak sengaja tangan ini meraih sebuah kenangan masa sekolah. Tulisan teman – temanku dikala kami masih duduk dibangku sekolah yang masih begitu kuingat dan kurasa tawa, riang, canda mereka. Ada beberapa foto dalam berbagai pose yang meski tak bisa bergerak, tapi mampu bercerita bahwa dulu aku “pernah” mengalami kejadian itu.
Teringat pula semua guru yang sangat kuhormati, yang masih terus mengabdi mencerdaskan generasi muda penerus bangsa. Ingin rasanya aku sesekali menengok dan menanyakan kabar mereka sambil menyusuri jalanan di sekeliling sekolah. Sebuah keinginan untuk memenuhi permintaan guruku dalam tulisannya.
“kalian adalah layang – layangku, murid – muridku... pendidikan yang kami berikan menjadikan kalian terbang meraih tempat teringgi dan saling berkompetisi di angkasa. Turunlah dalam satu waktu saat aku tua nanti. Dan ceritakan padaku apa yang kalian lihat diangkasa”
maafkan aku bapak, maafkan aku ibu. Maafkan kami yang tidak segera menengokmu, bercerita dan berbagi kisah denganmu . Tapi suatu hari nanti kami pasti akan menemuimu. Kami masih berusaha. Berusaha membanggakanmu, sekolah kami, dan orangtua kami. Kami sedang berjuang. Tunggulah kami guru – guruku tercinta
saat kesuksesan telah ada digenggaman kami, ketika bintang telah berhasil kami raih. Kami akan turun bapak guru, kami akan menemuimu ibu guru. Dan saat itu merupakan saat yang kami nanti. Dimana kami menceritakan usaha kami, layang – layangmu ini, untuk menjadi layang – layang yang tertinggi. Dan engkau pun akan menceritakan lagi kisah kami saat dibangku sekolah. Dengan tubuh kami yang sudah berubah tak lagi mengenakan seragam sekolah, dengan ucapanmu yang tak pernah kehilangan wibawa meski termakan usia. Dengan bersemangatmu yang menggebu engkau akan menceritakan kenakalan kami, keluguan kami, tingkah polah kami, yang meski dulu sangat menjengkelkan, tapi kini menjadi nostalgia indah yang menarik untuk dibahas, untuk diingat dan dikenang kembali.
Kami selalu memohon doamu. Agar masa itu segera tiba.
Namun saat waktu itu belum tiba, dan engkau merasakan rindu yang tak terperi, tataplah langit biru di angkasa dan rasakanlah.
Langit itu penuh dengan layang – layang yang kau terbangkan dulu.
Terima kasih pak guru, bu guru.
Salam hormat dari semua muridmu di segala penjuru tanah air.
0 komentar:
Poskan Komentar