Selasa, 03 Januari 2012

cinta itu mengikutiku

Masih lekat dalam ingatan saat jemari ini untuk pertama kali membahas tentang cinta. Cinta masa putih abu – abu. Bagaimana serunya, lugunya, dan malu – malunya cinta itu masih teringat kuat.
Kala itu aku menggambarkan bahwa cinta itu begitu alamiah, spontan dan semua orang bisa merasakannya. Bagaimana hebatnya cinta hingga bisa menyihir dunia dalam sekejap mata. Bagaimana dahsyatnya cinta hingga kinerja hormonal dalam tubuh kita pun bisa dipengaruhi olehnya.
Itu cinta putih abu – abuku, yang sederhana, tak bersyarat, dan apa adanya. Semua hanya terfokus pada satu kata, jatuh cinta. Tak ada yang mengikuti, tak ada yang membebani. Rasa cinta kala itu seperti aliran air yang tenang, atau bagaikan hembusan angin yang menyejukkan. Semuanya membawa kedamaian dan kebahagiaan.
Seiring dengan kutanggalkan seragamku itu, kerikil mulai muncul satu persatu. Cinta bukan hanya sebatas aku dan kamu yag merasakannya. Bukan hanya kita yang harus bahagia.
Pada masa ini pula aku mengenal cinta yang bersyarat. Jatuh cinta yang tepat. Dan entah kata apalagi yang sering tak bisa kucerna dengan logika. Untuk merasakan jatuh cinta, semua jadi begitu rumit.
Mengapa tidak sesederhana dulu? Saat aku jatuh cinta tak ada yang menyalahkan atas rasa yang aku tanam. Pokoknya jatuh cinta. Titik. Semua hal didunia ini hanya tentang aku dan kamu.
Kadang aku berpikir, mengapa semua ini bisa berubah.
Setelah aku berkali – kali memaki keadaan dan tak ada yang bisa aku dapatkan. Berulang – ulang menyalahkan namun tak ada yang bisa aku temukan, aku hanya bisa terdiam pada satu titik.
Titik dimana aku bisa melihat dimana kakiku berpijak sekarang. Titik dimana aku menyadari bahwa aku berubah. Pola pikir dan perasaanku sedikit demi sedikit mulai berubah. Aku telah berjalan dan meninggalkan satu masa abu – abu yang sangat indah dan sulit untuk dilupakan.
Dan hal lain yang kusadari adalah,
Bahwa ternyata cinta juga mengikutiku.
Dia turut dewasa ketika aku tumbuh. Dia ikut memikirkan masa depanku ketika aku mulai dewasa. Dan dia ikut mengkhawatirkanku ketika aku akan memilih seseorang yang akan mendampingi hidupku.
Tanpa kusadari, cinta masa abu – abu itu telah dewasa. Yang tidak memikirkan bahagia hanya “untukku” atau “untukmu”. Tapi “untuk kita semua”.

2 komentar:

Djibrat Asmara mengatakan...

dahsyat,,, merinding dibuatnya runtut dan halus,, profesional,,

Love and Hope mengatakan...

hahaha :)
makasih... masih belajar kok put...
^^